Agama menurut
pengertian yang aku paham berdasarkan penjelasan Saras Dewi dalam kuliah umum
kemarin. Agama merupakan sesuatu yang dekat dengan aturan tentang kebaikan,
tempat tujuan yang mulia, ajaran tata cara hidup dalam kondisi duniawi serta cara
untuk memahami hidup. Aku sendiri meyakini akan agamaku adalah sebuah jalan
dimana aku dapat memaknai sebuah kehidupan serta harapan akan kemuliaan. Menurutku
setiap orang beragama sebenarnya orang yang mulia, tanpa harus memandang suatu Representative atas tuhan mereka ataupun
aturan-aturan agamanya. Saras Dewi dalam ceramahnya menjelaskan tentang hubungan
antara filsafat dengan agama merupakan hal yang sangat bertentangan namun
saling membutuhkan.
Dalam hal tersebut,
Saras Dewi juga menjelaskan tentang kaum rasionalism. Dalam pemahanku kaum
tersebut terlalu berlebihan dalam menggunakan akal nalar mereka tentang
keberadaan tuhan. Salah satu tokoh rasionalism yang membuat saya jengkel adalah
Rene Descarted yang disinggung oleh Saras Dewi, dia berpendapat “aku berfikir
maka aku ada”. Pendapat itu juga pernah kutemukan dalam buku “ Mind Power”
karya John Kehoe, (2009). Menurut perspektifku sebagai seorang muslim, aku kurang
setuju dengan hal tersebut. Hal itu dikarenakan dalam ajaran agamaku, Allah
merupakan penguasa alam semesta dan tidak akan dapat diketahui bentuk dan
wujudnya. Hanya orang-orang pilhanlah yang dapat bertemu denganNya.
Beralih dari hal
tersebut, disini aku akan menjelaskan awal mula aku menjadi seorang muslim. Sejak
merasakan kefanaan dunia ini, aku terlahir sebagai seorang muslim. Hal itu
diindikasikan karena keberadaan orang tua dan keluarga besarku yang mayoritas
muslim. Tumbuh dalam keluarga muslim merupakan sebuah pendukung bagiku untuk
menjadi seorang muslim. Syarat untuk masuk dalam ajaran agamaku, seseorang itu
diharuskan membaca kalimat syahadah dua kali. Saya sedikit bingung dengan awal
mula saya menjadi muslim, karena suatu syarat itu merupakan hal mutlak yang
harus dipenuhi. Bisa aku simpulkan jika, aku menjadi seorang muslim saat aku
sudah dapat membaca bacaan syahadah. Jadi ketika aku masih bayi bisa diartikan
jika agamaku adalah agama ibu, karena aku dikandung selama 9 bulan 10 hari oleh
seorang muslim.
Namun hal tersebut
tidak terlalu mengusik keayakinanku akan keberadaanNya. Aku sangat yakin
tuhanku selalu menemaniku setiap detik dalam hidupku. Dalam hal ini aku tidak
dapat membuktikan secara konkret dan rasional, karena itu merupakan keyakinanku
yang tidak dapat tersirat dalam pembuktian. Keyakinanku tumbuh karena faktor
lingkungan keluarga dan kebudayaan. Keluargaku mendidikku agar menjadi seorang
yang yakin akan tuhan, mereka menjelaskan dengan adanya udara, angin berhembus,
burung-burung yang terbang bebas di udara. Secara ilmu Biologi hal-hal tersebut
dapat dinyatakan secara rasioal dan logik. Namun saya menyakini jika hal itu
semua datang dari tuhan.
Pada saat aku
mendapat pemahaman akan keyakinanku adanya tuhan usiaku masih sangat belia dan
hanya memiliki pemahaman yang terbatas dalam membuktikan adanya tuhan. Mungkin dengan
hal-hal yang sederhana sudah dapat membuatku yakin keberadaan tuhan, itu disebabkan
oleh faktor usiaku saat itu. Beranjak dewasa aku semakin yakin dengan adanya
tuhan dengan mengagumi akan ciptaan tuhan seperti fenomena alam, kecantikan
wanita, dan tempat-tempat yang sangat indah di berbagai belahan dunia. Jika
hal-hal tersebut kupikir secara logika mungkin sangat sulit bagiku untuk
mencernanya.
Aku hidup di dunia
ini karena kehendak tuhan dan segala rahasianya. Aku tetap yakin hadirnya tuhan
meski aku belum dapat bertemu denganNya. Tekhnologi saat ini sudah tergolong
sangat memadai untuk membuktikan segala kejadiaan dan dikonklusikan secara
teoritis serta rasional. Namun hal itu belum dapat mencari ujung dari pancaran
radiasi dari batu yang berada di ka’bah. Meskipun orang-orang barat sudah dapat
mengirim robot di palnet Mars. Hal itu ketemukan dalam beberapa artikel ilmiah
yang pernah aku baca.
Jadi dari
keseluruhan dalam pemahamanku akan keyakinan adannya tuhan, aku yakin tuhan
ada. Hal tesebut terbukti dengan segala kebesaranNya, seperti bencana alam yang
sangat besar, kejadian alam yang transendental, berbagai tempat yang
spektakuler di dunia. Dalam pembuktian tuhan dikehidupanku, aku yakin dengan
hal-hal yang kutemukan dalam kesehariaanku serta dengan segala keyakinanku atas
keberadaanNya.